Sabtu, 20 April 2013

Osteoporosis


Osteoporosis (Keropos Tulang): Penyebab, Pencegahan, dan Pengobatannya:



Osteoporosis berasal dari bahasa Yunani, osteo = tulang dan porosis= penuh dengan lubang. Osteroporosis adalah penyakit tulang keropos yang meningkatkan risiko patah tulang di usia tua.
gambar osteoporosis

Diagnosis

Osteoporosis didiagnosis melalui pengukuran kerapatan tulang (Bone Mineral Density). Hasil pengukuran dikenal dengan nama T-score, yaitu jumlah standar variasi di atas atau di bawah rata-rata BMD pria/wanita sehat usia 30 tahun. World Health Organization (WHO) memberikan klasifikasi BMD sebagai berikut:
Definisi WHO mengenai Osteoporosis

Menurut T-Score
Nilai Contoh Kategori BMD
-1 ke atas 1.0
0.5
0
-0.5
-1.0
Normal
-1 s.d. -2.5 -1.5
-2.0
Osteopenia
-2.5 ke bawah -2.5
-3.0
-3.5
-4.0
Osteoporosis
T score di atas -1 adalah normal. Bila Anda memiliki T score antara -1.0 dan -2.5 , maka Anda dikatakan mengidap osteopenia (kerapatan tulang rendah, tetapi belum dianggap rawan). Anda disebut terkena Osteoporosis bila T score Anda -2.5 atau lebih rendah.

Apakah penyebab osteoporosis?

Saat kita beranjak tua, tulang-tulang kita menjadi menipis karena setelah usia 30 tahun tingkat pembuatan sel tulang baru lebih rendah dari tingkat kehilangan/kerusakan sel tulang. Bila hal itu terjadi, tulang akan kehilangan mineral, massa dan struktur sehingga membuatnya lemah dan mudah patah.
Selain penuaan, BMD rendah dapat disebabkan pula olah kelainan gastrointestinal (gastrektomi, radang saluran pencernaan, kelainan kelenjar pankreas, dll), kelainan bawaan (Ehlers-Danlos syndrome, Marfan syndrome, dan homokistinuria), kelainan pola makan (anoreksia nervosa, bulimia nervosa), dan lainnya.
Evaluasi medis yang menyeluruh, termasuk riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik, dapat menunjukkan apakah ada penyebab sekunder yang mengakibatkan osteoporosis.

Siapa yang berisiko?

Baik wanita maupun pria sama-sama rentan terkena osteoporosis bila mereka gagal mendapatkan kerapatan tulang maksimal di usia 30 tahun. Peak BMD (BMD saat usia 30 tahun) diketahui memiliki pengaruh terbesar terhadap perkembangan osteoporosis. Kenaikan peak BMD sebesar 10%, misalnya, dapat menangguhkan osteoporosis hingga 13 tahun.
Perempuan lebih berisiko terkena dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan perempuan memiliki peak BMD lebih rendah dan karena kecepatan kehilangan massa tulang meningkat akibat perubahan hormonal pasca menopause.

Pencegahan dan Perawatan

Osteoporosis dapat dicegah dan dihambat dengan konsumsi makanan yang berkadar kalsium dan vitamin D tinggi, olah raga yang menahan beban tubuh (berjalan, berlari, push-up) atau beban lain (angkat barbel, dll) dan gaya hidup sehat (menghentikan rokok, minuman beralkohol dan berkafein). Merokok dan kafein meningkatkan sekresi kalsium di urin sehingga mempercepat pengeroposan tulang. Alkohol dapat mengganggu fungsi hati/ginjal dalam proses metabolisme kalsium.
Obat-obatan sejenis calcitonin, alendronate dan risedronate dapat menghambat osteoporosis, tetapi harus dikonsumsi dengan resep dokter. Dokter akan memberikannya setelah mempertimbangkan tingkat kesehatan dan risiko Anda terkena patah tulang di masa mendatang..

13560843261093028810
www.true-beauty-tips.com
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa massatulang yang rendah, disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat akhirnya menimbulkan kerapuhan tulang. Osteoporosis berarti tulang keropos yang melemahkan dan bisa patah bahkan dengan insiden kecil.
Osteoporosis, ditandai dengan hilangnya massa tulang dan kekuatan yang mengarah ke patah tulang, mungkin telah ada sepanjang sejarah manusia tetapi hanya baru-baru ini menjadi masalah klinis utama sebagai manusia umur meningkat. Pada awal abad 19, Sir Astley Cooper, seorang ahli bedah Inggris terkemuka, mencatat “ringan dan kelembutan yang (tulang) mengakuisisi dalam tahap yang lebih maju dari kehidupan” dan bahwa “ini keadaan tulang. . . nikmat banyak produksi patah tulang.
The osteoporosis Istilah ini diciptakan oleh Johann Lobstein pada sekitar waktu yang sama, tetapi ia menggambarkan gangguan mungkin osteogenesis imperfecta. Pada tahun 1940, dokter Amerika dan endokrinologi Fuller Albright menggambarkan osteoporosis postmenopausal dan mengusulkan bahwa itu adalah konsekuensi dari pembentukan tulang terganggu karena kekurangan estrogen.
Selanjutnya, konsep bahwa ada 2 bentuk osteoporosis, satu terkait dengan defisiensi estrogen pada menopause dan lainnya kekurangan kalsium dan penuaan dari kerangka, diusulkan. Ini telah digantikan oleh konsep saat ini yang osteoporosis merupakan sebuah kontinum, di mana mekanisme pathogenetic beberapa konvergen menyebabkan hilangnya massa tulang dan kerusakan microarchitectural struktur rangka. Faktor-faktor ini, ditambah dengan peningkatan risiko jatuh, berkontribusi terhadap tingginya insiden patah tulang pada pasien osteoporosis.
Ada jumlah yang berkembang pesat informasi, berdasarkan penelitian laboratorium, yang menunjukkan osteoporosis yang mungkin disebabkan oleh interaksi yang kompleks antara regulator lokal dan sistemik dari fungsi sel tulang.
Heterogenitas osteoporosis mungkin karena tidak hanya perbedaan dalam produksi regulator sistemik dan lokal, tetapi juga untuk perubahan reseptor, mekanisme transduksi sinyal, faktor transkripsi nuklir, dan enzim yang menghasilkan atau menonaktifkan regulator lokal. Dalam dekade terakhir, identifikasi dari banyak mekanisme regulasi yang telah dikaitkan dengan osteoporosis telah menjadi hasil dari penelitian genetik. Sejak studi osteoporosis manusia pertama menunjukkan sebuah asosiasi antara massa tulang, kerapuhan, dan polimorfisme pada reseptor vitamin D (VDR) gen, lebih dari 30 kandidat gen telah dilaporkan yang dapat mempengaruhi massa tulang dan kerapuhan.
Namun, penelitian ini telah dipresentasikan data yang bertentangan, sebagian karena ukuran sampel kecil dan perbedaan latar belakang genetik pengendalian penyakit dan mata pelajaran. Karena osteoporosis merupakan gangguan, kompleks poligenik, kontribusi dari polimorfisme gen tertentu cenderung relatif kecil, tetapi masih mungkin secara klinis penting. Penelitian kohort besar menggunakan metodologi standar genotip dan kontrol genetik serupa dan individu yang terkena diperlukan untuk lebih mendefinisikan peran gen tertentu dalam patogenesis osteoporosis, sebagaimana dicontohkan oleh sebuah studi baru pada polimorfisme reseptor estrogen.
***
Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.
Osteoporosis senilis terjadi karena kekurangan kalsium yang berhubungan denganusia dan ketidakseimbangan di antara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia di atas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis danpostmenopausal.
Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroiddan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan ini.
Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.
***
Tujuan pengobatan adalah meningkatkan kepadatan tulang. Semua wanita, terutama yang menderita osteoporosis, harus mengonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi.
Wanita paska menopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen (biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat, yang bisa memperlambat atau menghentikan penyakitnya. Bifosfonat juga digunakan untuk mengobati osteoporosis.
Alendronat berfungsi:
  • mengurangi kecepatan penyerapan tulang pada wanita pasca menopause

  • meningkatakan massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul

  • mengurangi angka kejadian patah tulang.
Supaya diserap dengan baik, alendronat harus diminum dengan segelas penuh air pada pagi hari dan dalam waktu 30 menit sesudahnya tidak boleh makan atau minum yang lain. Alendronat bisa mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas, sehingga setelah meminumnya tidak boleh berbaring, minimal selama 30 menit sesudahnya. Obat ini tidak boleh diberikan kepada orang yang memiliki kesulitan menelan atau penyakit kerongkongan dan lambung tertentu.
Kalsitonin dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau semprot hidung.
Tambahan fluorida bisa meningkatkan kepadatan tulang. Tetapi tulang bisa mengalami kelainan dan menjadi rapuh, sehingga pemakaiannya tidak dianjurkan.
Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi. Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan testosteron.
Patah tulang karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya di atasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau diperbaiki dengan pembedahan. Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik.
***
Pencegahan Osteoporosi meliputi:
  • Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dengan mengonsumsi kalsium yang cukup

  • Melakukan olah raga dengan beban

  • Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu).
Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun). Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanitasetengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium. Akan tetapi tablet kalsium dan susu yang dikonsumsi setiap hari akhir - akhir ini menjadi perdebatan sebagai pemicu terjadi osteoporosis, berhubungan dengan teori osteoblast.
Olah raga beban (misalnya berjalan dan menaiki tangga) akan meningkatkan kepadatan tulang. Berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang.
Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi risiko patah tulang. Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim. Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.


Sumberhttp://majalahkesehatan.com/osteoporosis-tulang-keropos-yang-membahayakan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar